I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal
yang selalu menarik dan tak habis-habisnya untuk dibicarakan dan dikaji, karena
sepanjang peradaban manusia maka sepanjang itu pula pendidikan selalu diperlukan dan dibutuhkan. Pendidikan
merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan masyarakat untuk
meningkatkan martabat manusia. Pendidikan terus berkembang seiring dengan perkembangan
zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) berdampak pada semua lini kehidupan. Selain
Perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karenanya
diperlukan kemampuan untuk memperoleh, mengelola dan memanfaatkan IPTEK
tersebut secara proporsional. Kemampuan ini
membutuhkan pemikiran yang sistematis, logis, dan kritis yang dapat
dikembangkan melalui peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam pendidikan
matematika.
|
Marti (Sundayana, 2013:
2) mengemukakan bahwa ”Meskipun matematika dianggap memiliki tingkat kesulitan
yang sangat tinggi, namun setiap orang harus mempelajarinya karena merupakan
sarana untuk memecahkan masalah sehari-hari. Pemecahan masalah tersebut
meliputi penggunaan informasi, penggunaan pengetahuan tentang menghitung dan
yang terpenting adalah kemampuan melihat serta menggunakan hubungan-hubungan
yang ada”. Pendapat di atas mempertegas bahwa matematika merupakan disiplin
ilmu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan merupakan salah satu bekal
yang dapat menghantarkan siswa menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pembelajaran matematika
adalah suatu proses yang diselenggarakan oleh guru
untuk membelajarkan siswa guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan
matematika. Suatu proses pembelajaran yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang
diselenggarakan oleh guru untuk menciptakan suasana belajar siswa yang nyaman,
menyenangkan, kreatif dan rileks dengan menggunakan metode atau cara mengajar
yang lebih menarik. Hal ini sejalan dengan pendapat Oemar Malik (Wahyuni, 2010)
yang menjelaskan bahwa guru dan siswa senantiasa dituntut untuk menciptakan
lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan, menantang, dan menggairahkan.
Berdasarkan observasi
awal dan hasil wawancara yang peneliti lakukan, peneliti melihat bahwa
pembelajaran matematika yang dilakukan belum optimal sehingga pencapaian tujuan
pembelajaran matematika yang diharapkan belum tercapai. Pada pembelajaran siswa
masih cenderung berpusat pada guru atau peran guru di kelas lebih dominan dari pada
siswa. Hal ini ketika pembelajaran berlangsung, materi diberikan oleh guru,
definisi dan rumus juga diberikan, penurunan rumus dan penyelesaian soal
dilakukan sendiri oleh guru, kegiatan siswa adalah mendengar dan membuat
catatan, serta mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru. Ketika guru
meminta siswa mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang mereka tidak pahami,
siswa tersebut malas bertanya dan hanya diam. Siswa juga merasa tidak percaya
diri untuk menjawab ataupun memberikan pertanyaan atau tanggapan secara
terbuka, baik kepada guru maupun teman sebayanya. Secara umum terlihat bahwa motivasi belajar siswa kurang
sehingga aktifitas siswa dalam pembelajaran belum berkembang secara optimal.
Salah satu faktor penyebabnya berasal dari dalam diri siswa, siswa menganggap
bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan mengandung bahasa yang
rumit. Hal ini tergambar dari sikap siswa, seperti siswa merasa kurang percaya
diri ketika menjawab ataupun mengajukan pertanyaan kepada guru.
Selain itu, siswa juga tidak termotivasi bekerjasama
dengan teman sebayanya saat menyelesaikan soal yang diberikan guru. Hal ini
terlihat dari kurangnya aktifitas siswa berdiskusi dengan temannya untuk
mengerjakan tugas yang diberikan guru. Beberapa siswa tertentu saja yang mau
mengerjakan tugas yang diberikan guru, sedangkan siswa yang lain menunggu
pekerjaan temannya selesai agar dapat mencontoh, bahkan ada juga yang tidak
mengerjakan tugas sama sekali. Masalah ini jika dibiarkan berlanjut akan
berakibat kepada aktifitas dan hasil belajar yang diperoleh siswa.
Selain faktor dari dalam diri siswa, faktor guru dan
strategi pembelajaran yang digunakan juga berperan penting atas rendahnya
aktifitas dan respon siswa dalam mengikuti pembelajaran. Guru cenderung
memperhatikan kelas secara keseluruhan sehingga perbedaan individual ataupun
kelompok kurang mendapat perhatian. Pembelajaran hendaknya memperhatikan
perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar
dapat merubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang
berperilaku yang kurang baik menjadi baik. Faktor lain juga telihat dari
perlakuan guru yang masih menggunakan strategi pembelajaran yang cenderung sama
setiap kali pertemuan di kelas berlangsung. Hal ini menyebabkan kurangnya minat
dan respon siswa terhadap pembelajaran karena tidak adanya variasi dari cara
mengajar guru.
Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini
adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang
kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini
mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem
belajar tuntas terabaikan. Salah satu indikasi dapat dilihat dari rendahnya
hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal ini dapat dilihat dari persentase
jumlah siswa yang memperoleh hasil belajar rendah berdasarkan Ketuntasan
Kompetensi Minimal (KKM) yang telah ditetapkan SMP Bajiminasa Makassar pada mata pelajaran yaitu 76.
Untuk mengatasi masalah di atas perlu diadakan upaya
pembaharuan dalam pembelajaran matematika, pembelajaran yang dilaksanakan harus
dapat menarik siswa untuk aktif dan terlibat secara mental sehingga minat dan
respon siswa terhadap pembelajaran menjadi lebih baik. Melalui upaya tersebut,
peneliti berharap pembelajaran matematika dapat membuat perubahan pada diri
siswa. Perubahan yang diharapkan adalah siswa lebih aktif dalam pembelajaran,
meningkatkan respon dan hasil belajar siswa, dan siswa mampu membagi
pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Jika siswa tersebut mampu
membagi pengetahuan matematika yang dimilikinya kepada orang lain, maka siswa
tersebut dapat menolong dirinya sendiri dan orang lain untuk memecahkan masalah
matematika.
Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan
penjelasan di atas
adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization
(TAI). Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan
pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individu. Tipe ini dirancang untuk
mengatasi kesulitan belajar secara individu. Dalam tipe Teams Assisted
Individualization ini
siswa ditempatkan pada kelompok–kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang
heterogen untuk menyelesaikan tugas individu yang sudah disiapkan guru,
kemudian dibawa ke dalam kelompok untuk dibahas bersama teman kelompok.
Keheterogenen kelompok dapat mencakup jenis kelamin, ras, agama (kalau
mungkin), tingkat kemampuan (rendah, sedang dan tinggi) dan sebagainya (Rusman,
2012: 404).
Pemberian tugas kepada kelompok dapat memanfaatkan Lembar
Kerja Siswa (LKS). LKS ini digunakan untuk menggalakkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Dalam hal ini LKS dapat
difungsikan untuk menemukan konsep, Prinsip, juga untuk aplikasi konsep dan
prinsip dalam mengajarkan materi jajar genjang dan belah ketupat. Selanjutnya diikuti pemberian bantuan secara individu
bagi siswa yang memerlukannya. Setelah itu guru memberikan tes formatif sesuai
dengan kompetensi yang ditentukan, kemudian pemberian penghargaan bagi kelompok
yang aktif dan rata–rata nilai anggotanya yang tinggi.
Peneliti berharap model pembelajaran kooperatif tipe Teams
Assisted Individualization dapat memberikan alternatif solusi atas masalah yang ada
di SMP Bajiminasa Makassar dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk itu peneliti menetapkan model pembelajaran
kooperatif tipe Teams Assisted Individualization dalam sebuah penelitian
yang berjudul ”Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Assisted Individualization (TAI)
untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIIB SMP Baji Minasa
Makassar Sub Pokok Bahasan Jajar Genjang dan Belah Ketupat”.
B.
Rumusan Masalah
Merujuk dari latar
belakang, maka rumusan masalahnya adalah “Apakah penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe teams assisted
individualization (TAI) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIB
SMP Bajiminasa Makassar sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat?”
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan
masalah, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk meningkatkan hasil belajar jajar
genjang dan belah ketupat siswa kelas VIIB SMP Bajiminasa
Makassar melalui model pembelajaran kooperatif tipe teams
assisted individualization (TAI).
D.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.
Bagi guru: sebagi bahan pemikiran untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui model
pembelajaran kooperatif tipe teams assisted
individualization (TAI).
2.
Bagi siswa: dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa secara klasikal maupun individual dan diharapkan siswa belajar
secara aktif, bersikap pasif dan bertanggung jawab serta senang dalam belajar
matematika.
3.
Bagi sekolah: dapat dijadikan suatu alternative
dalam pembelajaran matematika untuk setiap tingkat kelas dan dapat diterapkan
oleh guru-guru pada pelajaran lain serta memberikan sumbangan yang sangat
berharga bagi sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran sehingga dapat
menunjang tercapainya kurikulum dan meningkatkan hasil belajar siswa sesuai
dengan yang diinginkan.
4.
Bagi penulis: hasil penelitian ini diharapkan dapat
menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian dan memberikan gambaran kepada penulis
sebagai calon guru tentang keadaan sistem pembelajaran di sekolah, sehingga
dapat dijadikan acuan dalam pengembangan ide-ide dalam rangka perbaikan proses
pembelajaran.
II.
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.
Kajian Teori
1.
Hakekat Pembelajaran
Matematika
a.
Definisi belajar
Dalam keseluruhan proses
pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok.
Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak
bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak
didik, yang tentunya tidak terlepas dari peran seorang guru sebagai pendidik.
Skinner (Syah, 1995: 90)
menjelaskan belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku
yang berlangsung secara progresif. Menurut Morgan, belajar adalah perubahan
perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman.
Hilgard (Sanjaya, 2006:
112) menyatakan bahwa:
”Belajar itu
adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di
dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.”
|
Adapun menurut R. Gagne
(Susanto, 2012: 1), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses diman
suatu organism berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Bagi Gagne, belajar
dimaknai sebagai suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan,
keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Sementara itu, Bruner (Sagala, 2010:
35) membedakan proses belajar kedalam tiga fase yaitu: (1) informasi, dalam
tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan
yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula
informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya; (2)
transformasi, informasi itu harus di analisis, diubah atau ditansformasi
kedalam bentuk yang lebih abstrak, atau konseptual agar dapat digunakan untuk
hal-hal yang lebih luas dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan; (3)
evaluasi, kemudian kita nilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan
transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.
Muhibin Syah (1995)
dalam bukunya yang berjudul “psikologi
pendidikan dengan pendekatan baru” menyebutkan bahwa belajar dapat dipahami
sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatife menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi
dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Selain itu Mursell
(Sagala, 2010: 13) mengemukakan belajar adalah upaya yang dilakukan dengan
mengalami sendiri, menjelajahi, menelusuri, dan memperoleh sendiri.
Bertolak dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses interaksi antara
stimulus dan respon yang menghasilkan perubahan tingkah laku.
b.
Hakekat pembelajaran
Kata pembelajaran
merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar. Aktivitas belajar
secara metodologis cenderung lebih dominan pada siswa, sementara mengajar
secara instruksional dilakukan oleh guru. Proses pembelajaran merupakan suatu aktivitas yang tidak hanya sekedar
menyampaikan informasi dari guru kepada siswa, tetapi ada interaksi antara guru
dan siswa. Degeng (Uno, 2006: 2) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa.
Pembelajaran adalah
suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan
terjadinya belajar pada diri pebelajar.
AECT (Haling, 2007: 14).
Menurut Corey (Susanto, 2012:
186), pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara
dikelolah untuk memungkinkan ia turut
serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau
menghasilkan respons terhadap situasi tertentu. Pembelajaran dalam pandangan
Corey sebagai upaya menciptakan kondisi dan lingkungan belajar yang kondusif
sehingga memungkinkan siswa merubah tingkah lakunya.
Adapun menurut Dimyati,
pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional,
untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan
sumber belajar (Susanto, 2012: 184).
Rusman (2012: 3) juga
mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Dari uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya
pembelajaran merupakan suatu proses terjadinya interaksi antara stimulus
dan respon sehingga diperoleh tujuan yang diinginkan.
c.
Hakekat matematika
Sampai saat ini belum
ada kepastian mengenai pengertian matematika karena pengetahuan dan pandangan
masing-masing dari para ahli yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa
matematika adalah ilmu tentang bilangan dan ruang, matematika merupakan bahasa
simbol, matematika adalah bahasa numerik, matematika adalah metode berpikir
logis, matematika adalah ratunya ilmu dan juga menjadi pelayan ilmu yang lain.
Matematika terbentuk
dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian pengalaman itu
diproses di dalam rasio, diolah secara
analisis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampai
terbentuk konsep-konsep matematika.
Supaya konsep-konsep matematika yang terbentuk itu mudah dipahami oleh orang
lain dan dapat dimanipulasi secara tepat maka digunakan bahasa matematika atau
notasi matematika yang bernilai global (universal).
Berikut ini beberapa pandangan para ahli tentang
matematika (Upi, 2014):
1.
Russefendi
Matematika
terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi,
aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil-dalil setelah dibuktikan
kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah matematika disebut ilmu
deduktif. Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian
yang logis. Istilah matematika adalah bahasa yang menggunakan representasinya
dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide dari pada
mengenai bunyi.
2.
James
dan James
Matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk,
susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan lainnya.
Matematika terbagi dalam tiga bagian besar yaitu aljabar, analisis dan
geometri. Tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa matematika terbagi menjadi
empat bagian yaitu aritmatika, aljabar, geometris dan analisis dengan
aritmatika mencakup teori bilangan dan statistika.
3.
Reys-dkk
Matematika
adalah telaahan tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir,
suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.
4.
Kline
Matematika
itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri,
tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan
menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.
Dari
pendapat para ahli peneliti dapat menyimpulkan bahwa matematika pada hakekatnya
merupakan sistem yang aksiomatik karena dilandasi oleh kesepakatan-kesepakatan,
dapat dibuktikan kebenarannya, logis, bahasa yang digunakan umumnya bahasa
simbolik.
d.
Hakekat pembelajaran matematika
Pembelajaran matematika
adalah suatu proses belajar mengajar yang
dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang
dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan
mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik
terhadap materi matematika (Susanto, 2012: 186).
Pembelajaran secara
simple dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara
pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran
hakekatnya adalah usaha sadar dari seseorang guru untuk membelajarkan siswanya
(mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka
mencapai tujuan yang diharapkan
(Trianto, 2019: 17).
Pada hakekatnya
pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang mengandung
dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah belajar dan
mengajar. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu
kegiatan pada saat terjadi interaksi antara siswa dengan guru, antara siswa
dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungan disaat pembelajaran matematika
sedang berlangsung.
2.
Hakikat hasil belajar
Dalam proses mengajar,
kegiatan utamanya adalah belajar bagi siswa dan mengajar bagi guru. Siswa
senantiasa ingin mencapai hasil yang baik dalam belajar, dan sebaliknya guru
senantiasa ingin memperoleh hasil yang baik dari kegiatan yang dilakukannya.
Kegiatan proses belajar mengajar harus diawali perencanaan yang baik oleh
pengajar agar hasil belajar yang menjadi tujuan utama dari kegiatan proses
belajar mengajar dapat dicapai secara maksimal.
Bloom (Daryanto dan
Rahardjo, 2012: 27) mengemukakan tiga ranah hasil belajar yaitu kognitif,
afektif, dan psikomotor. Untuk aspek kognitif Bloom menyebutkan enam tingkatan yaitu:
pengetahuan, pemahaman, pengertian, aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya proses belajar
ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik yang menyangkut
segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Proses perubahan dapat terjadi dari
yang paling sederhana sampai pada yang paling kompeks yang bersifat pemecahan
masalah, dan pentingnya peranan kepribadian dalam proses serta hasil belajar.
Pengertian tentang hasil
belajar sebagaimana diuraikan di atas dipertegas oleh Nawawi (Susanto, 2012: 5)
yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat
keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang
dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi
pelajaran tertentu. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa
adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar.
Karena belajar merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk
memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap. Dalam
kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan
tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai
tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Untuk mengetahui apakah
hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat
diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Sunal (Susanto, 2012:
5), bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan informasi untuk membuat
pertimbangan seberapa efektif suatu program telah memenuhi kebutuhan siswa.
Selain itu, dengan dilakukannya evaluasi atau penilaian dapat dijadikan
feedback atau tindak lanjut, atau bahkan cara untuk mengukur tingkat penguasaan
siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat
penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap
dan keterampilan.
Susanto (2012: 6-11)
dalam bukunya yang berjudul “Teori belajar dan pembelajaran di sekoah dasar”
mendeskripsikan bahwa hasil belajar dapat digunakan sebagai dasar penilaian
terhadap peserta didik dalam mencapai pembelajaran dan kinerja yang diharapkan.
Hasil belajar merupakan uraian kemampuan yang harus dikuasai peserta didik
dalam berkomunikasi secara spesifik serta dapat dijadikan ukuran untuk menilai
ketercapaian hasil pembelajaran. Peserta didik diberi kesempatan untuk
menggunakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang sudah mereka
kembangkan selama pembelajaran dan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sudah
ditentukan. Selama proses ini, guru dapat menilai apakah peserta didik telah
mencapai suatu hasil belajar yang ditunjukkan dengan pencapaian beberapa
indicator dari hasil belajar tersebut. Dengan demikian, penilaian hasil belajar
siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang
diberikan kepada siswa.
Hasil belajar
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya meliputi pemahaman konsep (aspek kognitif),
keterampilan proses (aspek
psikomotorik), dan sikap siswa (aspek afektif). Untuk lebih jelasnya dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a.
Pemahaman konsep
Pemahaman menurut Bloom
diartikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang
dipelajari. Pemahaman menurut Bloom ini adalah seberapa besar siswa mampu
menerima, menyerap, dan memahami pelajaran yang diberikan oleh guru kepada
siswa, atau sejauh mana siswa dapat memahami serta mengerti apa yang ia baca,
yang dilihat, yang dialami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau
observasi langsung yang ia lakukan.
Menurut Dorothy J. Skeel
dalam Nursid Sumaatmadja (2005: 2-3),
konsep merupakan sesuatu yang tergambar dalam pikiran, suatu pemikiran,
gagasan, atau suatu pengertian. Orang yang telah memiliki konsep berarti,
berarti orang tersebut telah memiliki pemahaman yang jelas tentang suatu konsep
atau citra mental tentang sesuatu. Untuk mengukur hasil belajar siswa yang
berupa pemahaman konsep, guru dapat melakukan evaluasi produk. Evaluasi produk
dapat dilaksanakan dengan mengadakan berbagai macam tes, baik tes secara lisan
maupun tertulis.
b.
Keterampilan proses
Dalam melatih
keterampilan proses, secara bersamaan dikembangkan pula sikap-sikap yang
dikehendaki, seperti kreativitas, kerja sama, bertanggung jawab, dan
berdisiplin sesuai dengan penekanan bidang studi yang bersangkutan.
Indrawati (1993: 3)
merumuskan bahwa keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah
yang terarah (baik kognitif maupun psikomotorik) yang dapat digunakan untuk
menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan konsep yang
telah ada sebelumnya, atau untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan
(falsifikasi). Dengan kata lain, keterampilan
ini digunakan sebagai wahana penemuan dan pengembangan konsep, prinsip, dan
teori.
c.
Sikap
Dalam hubungannya dengan
hasil belajar, sikap lebih diarahkan pada pengertian pemahaman konsep. Dalam
pemehaman konsep, domain yang sangat berperan adalah domain kognitif.
Hasil belajar merupakan
hasil dari suatu proses yang di dalamnya terlibat sejumlah factor yang saling
mempengaruhinya. Tinggi rendahnya hasil belajar seseorang dipengaruhi oleh
factor-faktor tersebut.
Russefendi (Susanto,
2012: 14) mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
kedalam sepuluh macam, yaitu: kecerdasan, kesiapan anak, bakat anak, kemauan
belajar, minat anak, model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana
belajar, kompetensi guru dan kondisi masyarakat.
Dari uraian sebelumnya
dapat peneliti simpulkan bahwa pada
hakikatnya hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah
melakukan serangkaian kegiatan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar
adalah siswa yang mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
3.
Model pembelajaran
kooperatif
Pembelajaran
kooperatif (kooperatif learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara
siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang
anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang
bersifat heterogen. Pada hakekatnya cooperative learning sama dengan kerja
kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang
aneh dalam cooperative learning
karena mereka beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran kooperatif dalam
bentuk belajar kelompok. Walaupun tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning. Abdulhalk (Rusman,
2013: 203) berpendapat bahwa “pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui
sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman
bersama diantara peserta belajar itu sendiri”. Masih dalam Rusman, Nurulhayati
mengemukakan lima unsur dasar model cooperative
learning, yaitu: (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungjawaban
individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, (5) evaluasi proses
kelompok.
Menurut Nur (Daryanto
dan Rahardjo, 2012 : 243), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai
berikut:
a.
Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab
atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b.
Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui
bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
c.
Setiap anggota kelompok siswa harus membagi tugas
dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
d.
Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai
evaluasi.
e.
Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi
kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses
belajarnya.
f.
Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta
mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok
kooperatif.
Adapun ciri-ciri model
pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1)
Siswa dalam kelompok secara kooperatif
menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2)
Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki
kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin
anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta
memperhatikan kesetaraan gender.
3)
Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari
pada masing-masing individu.
Dari uraian sebelumnya
dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran kooperatif merupakan
kegiatan belajar siswa yang dilakukan dengan cara berkelompok, siswa belajar
bekerja sama dengan anggota lainnya.
4.
Model pembelajaran
kooperatif tipe TAI
a.
Karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe
TAI
TAI memiliki dasar pemikiran yaitu untuk mengadaptasi
pembelajaran terhadap perbedaan individual berkaitan dengan kemampuan siswa
maupun pencapaian prestasi siswa.TAI termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model
pembelajaran TAI, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen dan
selanjutnya diikuti pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang
memerlukannya.
Model pembelajaran
kooperatif tipe TAI dikembangkan oleh Robert E. Slavin dalam karyanya Cooperative Learning: Theory, Research and
practice. Slavin (2005: 187) memberikan penjelasan bahwa dasar pemikiran
dibalik individualisasi pembelajaran adalah bahwa para siswa memasuki kelas
dengan pengetahuan, kemampuan, dan motivasi yang sangat beragam. Ketika guru menyampaikan
pelajaran kepada bermacam-macam kelompok, besar kemungkinan ada sebagian siswa
yang tidak memiliki syarat kemampuan untuk mempelajari pelajaran tersebut dan
akan gagal memperoleh manfaat dari metode tersebut. Siswa lain mungkin malah
sudah tahu tentang materi itu.
Ciri khas model
pembelajaran TAI adalah setiap siswa secara individual belajar materi
pembelajaran yang dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke
kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok,
dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai
tanggung jawab bersama. Model pembelajaran TAI memiliki delapan komponen.
Kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Teams (kelompok),
pembentukan kelompok heterogen yang
terdiri atas 4 sampai 6 siswa
2.
Placement test (tes penempatan),
pemberian pretest(tes
awal) kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru
mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.
3.
Student Creative, melaksanakan tugas
dalam suatu kelompok dengan menciptakan
situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh
keberhasilan kelompoknya.
4.
Team Study (belajar kelompok), tahapan tindakan belajar yang
harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru , memberikan bantuan secara
individual kepada siswa yang membutuhkannya.
5.
Team scores and team
recognition (skor team dan rekognisi team), guru menghitung jumlah skor kelompok. Skor
didasarkan pada jumlah rata-rata yang diperoleh tiap anggota kelompok.
6.
Teaching Group (kelompok pengajaran),
pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
7.
Facts Test (tes fakta),
pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
8.
Whole class unit (unit seluruh kelas),
pemberian materi oleh guru kembali di akhir pelajaran dengan strategi pemecahan
masalah.
Pembelajaran Teams Assisted Individualization adalah
salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan,
melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan
peranan siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
b.
Langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif tipe TAI
Dengan mengadopsi model pembelajaran TAI dalam
pembelajaran Matematika, maka seorang guru mata pelajaran matematika dapat
menempuh langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut (Daryanto dan Rahardjo,
2002: 247):
1.
Guru
memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara
individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
2.
Guru
memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar
atau skor awal.
3.
Guru
membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 5 siswa
dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang, dan
rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang
berbeda serta kesetaraan gender.
4.
Hasil
belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi
kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
5.
Guru
memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan
penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
6.
Guru
memberikan kuis kepada siswa secara individual.
7.
Guru
memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan
hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
Adapun
kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel
2.1 kelebihan dan kelemahan
model pembelajaran TAI
Kelebihan
Pembelajaran tipe TAI
|
Kelemahan
Pembelajaran tipe TAI
|
1.
Siswa yang lemah dapat
terbantu dalam menyelesaikan masalahnya.
2.
Siswa yang pandai
dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya.
3.
Adanya tanggung jawab
dalam kelompok dalam menyelesaikan permasalahannya.
4.
Siswa diajarkan
bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok.
|
1.
Tidak ada persaingan
antar kelompok.
2.
Siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang
pandai.
3.
Bila kerja sama tidak
dilakukan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah beberapa murid yang
pintar dan yang aktif saja.
|
B.
Materi Ajar
Materi Segiempat terdiri
dari, persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah
ketupat, layang-layang dan trapesium. Sub pokok bahasan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah jajargenjang dan belah ketupat. (Sukini dan Wilson, 2006:
294–303)
1.
Jajar genjang.
a.
Pengertian dasar
Perhatikan gambar
dibawah ini!
|
||||
|
||||
|
Gambar tersebut
menunjukkan bangun datar ABCD yang dibentuk dari penggabungan ∆ABC dan segitiga hasil rotasi setengah
putaran dengan pusat di titik O (titik tengah CB).
Berdasarkan gambar 2.1 diperoleh:
AB = CD, serta AC//BD.
Bangun ABCD disebut jajar genjang. Jadi dapat disimpulkan jajar genjang adalah segi empat dengan
kekhususan yaitu sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang (Sukino dan Wilson, 2006: 295).
b.
Sifat-sifat jajar genjang
Sifat-sifat yang dimiliki oleh jajar genjang adalah:
1)
Sisi-sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar
Bukti:
Perhatikan gambar di bawah ini!
Gambar 2.2
sisi berhadapan sama panjang
Akan dibuktikan bahwa AB = DC,
BC = AD, AB//DC, dan BC//AD.
a)
AB menempati CD maka AB = CD dan
AB//CD (AB sejajar CD)
b)
BC menempati DA maka BC = DA dan
BC//DA (BC sejajar DA)
Jadi, terbukti bahwa AB
sejajar dan sama panjang dengan CD serta BC sejajar dan sama panjang dengan DA.
2)
Sudut-sudut yang berhadapan sama besar.
![]() |
|||
Perhatikan gambar 2.4. ∆ABC sebangun dengan ∆CDA karena diputar setengah
putaran terhadap titik O (titik tengah AC), maka diperoleh:
a)
AB menempati CD dan BC menempati DA maka diperoleh <
ABC = < CDA.
b)
AC berimpit
dengan CA, maka
BAC =
DCA dan
DAC =
DCB.
Hal ini berarti, sudut-sudut yang berhadapan dalam jajar
genjang sama besar.
3)
Mempunyai dua buah diagonal yang berpotongan di
satu titik dan saling membagi dua sama panjang
4)
Mempunyai simetri putar tingkat dua, jika diputar terhadap pusatnya
sejauh 180o jajar genjang akan menempati bingkainya dan diputar lagi
sejauh 360o akan menempati bingkainya kembali.
5)
Tidak memiliki
simetri lipat
Dikatakan
memiliki simetri lipat apabila suatu bangun dilipat menjadi dua dan tepi-tepi
bangun berimpit. Karena tepi-tepi bangun jajar genjang tidak berimpit jika
dilipat maka jajar genjang tidak memiliki simetri lipat.
Contoh Soal
![]() |
Pada
jajargenjang KLMN di atas, diagonal-diagonalnya berpotongan di titik P. Jika
diketahui panjang KL = 10 cm, LM = 8 cm, dan sudut KLM = 112°, tentukan;:
Panjang MN, panjang KN, besar sudut KNM, besar sudut LKN.
Penyelesaian:
KL =
10 cm, LM = 8 cm, dan sudut KLM = 112o.
1.
MN =
KL = 10 cm
2.
KN =
LM = 8 cm
3.
Sudut
KNM = sudut KLM (sudut yang berhadapan) = 112o
c). Keliling dan luas jajar genjang
1)
Keliling
Keliling
|
Menentukan keliling
jajar genjang dapat dilakukan dengan cara menjumlahkan semua panjang sisinya.
Sisi-sisi pada jajar genjang yang sejajar adalah sama panjang. Apabila panjang dua sisi yang tidak
sejajar masing-masing adalah m dan n, maka Keliling jajar genjang = m + n + m + n = 2m + 2n = 2 (m + n).
Contoh soal:
1. Tentukan keliling
jajar genjang ABCD bila AB = 10 cm dan AD = 9 cm!
Penyelesaian:
Keliling = 2(AB + AD) =
2(10 cm + 9 cm) = 2 x 19 cm = 38 cm. Jadi, keliling jajar genjang ABCD = 38 cm
2)
|
|
![]() |
|||
![]() |
|||
Luas jajar genjang ABCD = Luas Δ ABD + Luas Δ BCD
=
a.t +
a.t
= a.t
Luas daerah jajargenjang = alas x tinggi
Contoh 1:
Gambar di atas
menunjukkan sebuah jajar genjang.
Hitunglah:
a.
Keliling jajar genjang dalam satuan mm,
b.
Luas jajar genjang dalam satuan cm2
Jawab:
a.
Untuk keliling dalam satuan mm, semua sisi harus
dalam mm.
Sisi = 8,7 cm = (8,7 x
10) mm = 87 mm
Sisi lain = 63 mm
Keliling = 2 x (87 + 63)
= 300 mm
b.
Untuk luas dalam cm2, alas dan tinggi
harus dalam cm.
Alas = 8,7 cm
Tinggi = 46 mm = (46 :
10) cm = 4,6 cm
Luas = alas x tinggi
= 8,7 x 4,6
= 40,02 cm2
Contoh 2:
ABCD merupakan sketsa sebuah jajar
genjang dengan luas 36 cm2, BC = 78 mm, dan CD = 52 mm. Hitunglah l dalam satuan cm!
Jawab:
Diketahui:
Luas = 36 cm2
Alas = CD = 52 mm = 5,2
cm
Tinggi = l cm
Luas = alas x tinggi
Tinggi = luas : alas
l = luas : alas = 36 : 5,2
l = 6,92 cm (dibulatkan
hingga 2 desimal)
2. Belah ketupat
a.
Pengertian
Perhatikan gambar
dibawah ini
Cermin
|
Belah ketupat dibentuk dari gabungan segitiga sama kaki
dan bangunannya setelah dicerminkan terhadap alasnya. Belah ketupat juga bisa
dikatakan sebagai jajar genjang dengan kekhususan yaitu semua sisi-sisinya sama panjang. Jadi, belah ketupat adalah segi empat
yang dibentuk dari segitiga sama kaki dan bayangannya, dengan alas sebagai
sumbu cermin (Sukino dan
Wilson, 2006: 299).
b.
Sifat-sifat belah ketupat
Berdasarkan definisi dapat diketahui sifat-sifat
belah ketupat sebagai berikut:
1)
Semua sisinya sama panjang
Bukti:
Perhatikan gambar
|
a)
Belah ketupat ABCD dibentuk dari dua buah segitiga
sama kaki yang kongruen, yaitu ∆ABD dan ∆CBD.
b)
Karena ∆ABD dan ∆CBD kongruen, maka AB = CB dan AD
= CD
c)
Karena ∆ABD dan ∆CBD sama kaki, maka AB = AD dan BC
= CD
Dari kedua hal di atas diperoleh AB = BC = CD = AD.
Jadi, belah ketupat ABCD mempunyai panjang sisi yang sama.
2)
Sudut-sudut yang berhadapan sama besar dan dibagi
dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya
Bukti:
Perhatikan gambar!
|
Karena ∆ABD dan ∆CBD
kongruen maka
A =
C. Karena segitiga yang membentuk belah ketupat ABCD
merupakan segitiga sama kaki, maka dalam ∆ABD,
ABD dan dalam ∆CBD,
CBD =
CDB. Hal ini berarti,
ABD +
CBD =
ADB +
CDB atau
ABC =
ADC. Jadi, dalam belah ketupat ABCD terdapat
A =
C dan
B =
D. Sudut-sudut yang saling berhadapan dalam belah
ketupat sama besar. Dari uraian di atas, berarti belah ketupat mempunyai
sudut-sudut berhadapan yang sama besar dan dibagi dua sama besar oleh
diagonal-diagonalnya.
3)
Kedua diagonalnya saling membagi dua sama panjang
dan saling tegak lurus
|
Perhatikan gambar
a)
Misalkan O
adalah titik tengah diagonal BD. Segitiga sama kaki ABD dibentuk dari dua
segitiga siku-siku yang kongruen, yaitu ∆AOB dan ∆AOD dengan AO sebagai sumbu
simetri ∆ABD, BO = DO, < OAB = < OAD, dan < AOB = < AOD = 90o
.
b)
CO adalah sumbu simetri dari ∆CBD, < OCB = <
OCD, dan < COB = < COD = 90o. Hal ini berarti <AOB +
<COB = 2 x 90o = 180o. Jadi, AC merupakan diagonal
belah ketupat.
c)
Karena BD diagonal belah ketupat ABCD yang
diperoleh dari pemutaran ∆ABD pada garis BD maka: AO = CO.
4)
Kedua diagonal belah ketupat merupakan sumbu
simetrinya
Perhatikan gambar
|
Belah ketupat ABCD
terbentuk oleh:
a)
∆ABD dan ∆CBD kongruen dan sama kaki dengan AB =
AD, maka BD merupakan sumbu simetri.
b)
∆ABC dan ∆ADC kongruen dan sama kaki, maka AC merupakan
sumbu simetri. Jadi, belah ketupat ABCD mempunyai dua sumbu simetri, yaitu BD
dan AC.
c.
Keliling dan
luas belah ketupat
1)
|
|
|
|
|
Perhatikan belah ketupat ABCD di atas, dengan
panjang sisi sama dengan s dan titik potong antar diagonalnya
di O.
Keliling ABCD = AB + BC
+ CD + DA = s + s + s + s = 4s
Keliling belah ketupat =
4 x panjang sisi
2)
Luas
Untuk menentukan luas belah ketupat, kita
dapat menggunakan rumus jajar genjang yaitu alas x tinggi, karena belah ketupat
merupakan bentuk khusus dari jajar genjang. Rumus lain dari belah ketupat dapat
pula ditunjukkan sebagai berikut:
|
Bila a dan b adalah
panjang diagonal-diagonal sebuah belah ketupat maka belah ketupat (i) dapat di
ubah menjadi persegi panjang (ii) dengan panjang sisi
a
dan b atau persegi panjang (iii)
dengan panjang sisi a dan
b.
Luas belah ketupat =
(a x b)
Luas belah ketupat = 
Contoh soal:
Panjang
diagonal-diagonal sebuah belah ketupat adalah 6 cm dan 8 cm. Hitunglah:
a.
Keliling belah ketupat itu!
b.
Luas belah ketupat
Jawab:
Misalkan belah ketupat
ABCD, AC = 6 cm, dan BD = 8 cm.
AO = OC =
AC = 3 cm dan BO = OD =
BD = 4 cm.
AD = 
= 
= 
=
= 5
AD = 5 cm
·
Keliling = 4 x AD = 4 x 5 = 20 cm
·
Luas =
=
= 24 cm2.
C.
Kerangka Pikir
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang
tersusun secara hirarkis, berurutan, logis, dan berjenjang dari yang sederhana
ke tingkat yang lebih kompleks, dari yang mudah ke tingkat yang lebih sulit.
Oleh karena itu, banyak siswa yang mengalami hambatan dan sukar dalam
mempelajarinya. Untuk mengatasi masalah di atas perlu diadakan upaya
pembaharuan dalam pembelajaran matematika, pembelajaran yang dilaksanakan harus
dapat menarik siswa untuk aktif dan terlibat secara mental sehingga minat dan
respon siswa terhadap pembelajaran menjadi lebih baik. Pembelajaran matematika
hendaknya didesain untuk dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menumbuh kembangkan kemampuan mereka secara maksimal.
Dalam pembelajaran
kooperatif siswa dituntut mampu
bekerjasama dalam kelompok kecil yang heterogen, adanya ketergantungan
positif (saling membutuhkan), saling membantu dan saling memberikan motivasi
pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan
pemantauan melalui observasi dan penekanan belajar tidak hanya dalam
menyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal. Jadi pembelajaran
kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi sesamanya, Model
pembelajaran TAI termasuk pembelajaran kooperatif.
Dalam model pembelajaran Team Assisted
Individualization masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang
setara. Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang
heterogen untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiapkan secara
individu bagi siswa yang memerlukan. Siswa yang pandai ikut bertanggung jawab
membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya.
Berdasarkan uraian
diatas diasumsikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dapat
diterapkan dalam subpokok bahasan jajargenjang dan belah ketupat.
D.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian
pustaka dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis
dalam penelitian ini adalah “Jika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe
Teams Assisted Individualization pada
materi jajar genjang dan
belah ketupat maka hasil belajar matematika siswa dapat ditingkatkan”.
III.
METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian.
Penelitian ini merupakan
penelitian tindakan kelas yang direncanakan akan dilakukan dalam beberapa
siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan langkah yaitu: 1) perencanaan,
2) pelaksanaan, 3) observasi, 4) refleksi.
B.
Setting Penelitian
1.
Tempat dan waktu
penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan di
SMP Bajiminasa Makassar yang terletak di Jl. Bajiminasa pada semester genap tahun akademik 2013/2014
2.
Subjek penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIB
SMP Bajiminasa Makassar yang berjumlah 20 orang siswa, terdiri dari 7 siswa laki–laki dan 13 orang siswa perempuan. Subjek penelitian ini sangat heterogen berdasarkan
kemampuannya (kemampuan tinggi, sedang dan rendah).
C.
Faktor-faktor yang Diselidiki
Ada beberapa faktor yang diselidiki sebagai berikut:
1.
|
2.
Faktor hasil: Dengan melihat hasil belajar
matematika siswa setelah diterapkan model Pembelajaran Teams Assisted Individualization
D.
Desain Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini
direncanakan terdiri dari dua siklus, yang dimana tiap siklus terdiri
dari empat tahapan tindakan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4)
refleksi, (Suharsimi, dkk, 2011: 20).
Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang baru selesai
dilaksanakan dalam satu siklus, maka guru pelaksana (bersama peneliti
pengamat/observer) menentukan rancangan untuk siklus kedua. Apakah guru
tersebut akan mengulangi kesuksesan untuk meyakinkan atau menguatkan hasil,
atau akan memperbaiki langkah terhadap hambatan atau kesulitan yang ditemukan
dalam siklus pertama? Hasil keputusan tersebut dijadikan rancangan untuk
tindakan siklus kedua. Setelah menyusun rancangan untuk siklus kedua, guru
dapat melanjutkan ke tahap 2, 3, dan 4, seperti yang terjadi dalam siklus
pertama. Jika sudah selesai dengan kedua dan guru belum merasa puas, dapat
dilanjutkan kesiklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus
sebelumnya, (Suharsimi, dkk, 2011: 21).
Secara terperinci, prosedur yang akan dilakukan dalam pelaksanaan
penelitian ini dapat digambarkan sebagai
berikut :
![]() |
1.
Gambaran kegiatan siklus
I
Perencanaan siklus I
dilaksanakan selama 2 kali pertemuan termasuk 1 kali pertemuan sebagai
pelaksanaan tes siklus I. Tahapan pelaksanaan siklus I sebagai berikut:
a.
Perencanaan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan
ini sebagai berikut:
1)
Menelaah kurikulum matematika SMP kelas VII
Semester Genap Tahun Ajaran 2013/2014.
2)
Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
3)
Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS)
4)
Mempersiapkan lembar observasi untuk mencatat
aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar di kelas pada
pelaksanaan tindakan siklus I.
5)
Membuat tes hasil belajar matematika
6)
Menyediakan sarana pendukung yang diperlukan
7)
Mempelajari bahan yang akan diajarkan dari berbagai
sumber.
b.
Tindakan
Dalam penelitian ini
akan digunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization (TAI). Adapun langkah-langkahnya
sebagai berikut:
1)
Melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar
dengan mengacu pada RPP yang telah dibuat.
2)
Peneliti mengatur segala hal yang memudahkan saat
pelaksanaan penelitian.
3)
Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran dan pentingnya mempelajari materi jajar
genjang dan belah ketupat
4)
Guru
menyampaikan model pembelajaran yang akan digunakan.
5)
Guru menyiapkan materi jajar genjang dan belah ketupat beserta LKS yang akan diselesaikan
oleh kelompok siswa
6)
Guru memberikan pra-test (materi prasyarat, yaitu persegi) kepada siswa atau
melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui tingkat kemampuan siswa.
7)
Guru menyampaikan materi secara singkat
8)
Setelah
menyampaikan materi, guru membentuk kelompok kecil yang heterogen tetapi
harmonis berdasarkan hasil pra-test, setiap kelompok 4-5 siswa.
9)
Setiap siswa dalam kelompoknya masing-masing mengerjakan tugas dari guru berupa
LKS, dan guru memberikan bantuan secara individual bagi yang memerlukannya
10)
Ketua kelompok mempresentasikan hasil kerja
kelompoknya
11)
Guru memberikan post-test untuk dikerjakan secara
individu
12)
Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan
perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor
kuis.
c.
Observasi
Pada tahap ini
dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan
lembar observasi yang telah dibuat untuk melihat aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Pelaksanaan observasi aktivitas siswa dilakukan setiap kali pertemuan. Peneliti
mengamati perubahan sikap siswa dalam belajar yang meliputi keaktifan siswa
dalam memperhatikan materi yang diberikan oleh guru, mengajukan pertanyaan,
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dan sebagainya. Hasil observasi dicatat dalam lembar observasi aktifitas
siswa.
d.
Refleksi
Pada tahap refleksi ini
hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpul untuk
dianalisis. Dari hasil yang didapat, peneliti melihat data observasi sejauh
mana faktor-faktor yang diselidiki telah tercapai. Hal-hal yang belum berhasil
ditindak lanjuti pada siklus II.
Hasil yang didapatkan
dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil analisis tersebut
dilakukan refleksi. Hasil analisis siklus I dijadikan acuan untuk merencanakan
siklus II sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan
harapan untuk lebih baik dari siklus sebelumnya.
2.
Gambaran Siklus II
Pada prinsipnya kegiatan pada siklus
II ataupun pada siklus selanjutnya sama dengan kegiatan pada siklus I, dengan
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I berdasarkan hasil
refleksi pelaksanaan siklus I.
Pelaksanaan siklus II juga dilakukan dalam 3 kali pertemuan atau 4 jam
pelajaran dengan alokasi waktu 2 x 40 menit.
Yang menjadi fokus utama dalam
siklus II ini adalah mengupayakan semaksimal mungkin menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Teams
Assisted Individualization (TAI) dengan baik sehingga hasil belajar siswa
dapat meningkat. Kemudian siswa yang kurang aktif pada siklus I diupayakan
jalan keluarnya supaya aktif. Akan tetapi, apabila setelah siklus II hasil
belajar siswa belum memenuhi ketuntasan klasikal maka akan dilanjutkan ke
siklus berikutnya.
E.
Data dan Sumber Data
Data dari penelitian ini
berupa skor hasil belajar yang akan dilakukan pada setiap akhir siklus dan data
observasi. Adapun sumber datanya berasal dari siswa. Dalam hal ini akan
dilakukan pemberian tes hasil belajar sebanyak dua kali atau lebih sesuai
dengan jumlah siklus yang direncanakan.
F.
Instrumen dan Teknik
Pengumpulan Data
Untuk pengambilan data
dalam penelitian digunakan instrumen yang berupa lembar observasi dan tes.
Lembar observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, sedangkan tes
digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa terhadap materi pelajaran
metematika. Sebelum menggunakan
tes yang telah disusun, terlebih
dahulu divalidasi oleh beberapa validator.
Adapun teknik
pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Data mengenai peningkatan hasil belajar siswa
diambil dari tes setiap siklus.
2.
Data tentang situasi hasil belajar mengajar diambil
pada saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
G.
Teknik Analisis Data
Data yang dikumpul akan
dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.
Analisis kuantitatif digunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif
adalah statistik yang berfungsi memberikan gambaran atau mendeskripsikan
karakteristik dari objek yang diteliti, yang terdiri dari skor rata-rata, median, modus, standar deviasi, varians, nilai minimum dan nilai
maksimum yang diperoleh siswa pada setiap akhir siklus. Untuk analisis
kuantitatif digunakan teknik
kategorisasi skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang diterapkan
oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Marno, dkk., 2010: 73).
Tabel 3.1.Kategori
Standar Penilaian
SKOR
|
KATEGORI
|
0 – 54
55 - 64
65 - 79
80 – 89
90 – 100
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
|
H.
Indikator Keberhasilan
Yang menjadi indikator
keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila skor rata-rata hasil belajar
matematika siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe teams assisted individualization (TAI)
dari subyek penelitian terjadi peningkatan. Disamping itu, ditandai dengan
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) seperti yang diterapkan oleh SMP Bajiminasa
Makassar bahwa dikatakan tuntas belajar jika mencapai minimal skor 76 dari skor
ideal pada mata pelajaran matematika dan ketuntasan secara klasikal tercapai yaitu skor 85% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥76.
Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:
Yrama Widya
Budiningsih, Asri. 2004. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
Daryanto dan Rahardjo,
Muljo.2012. Model Pembelajaran Inovatif.
Yogyakarta: Gava Media.
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran.Makassar: Badan
penerbit UNM.
Hamalik, Oemar. 2009. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung:
Sinar Baru Algesindo
Indrawati. 2000. Keterampilan Proses Sains: Tinjauan Kritis dari Teori ke Praktis.Bandung:
Dirjen Dikdasmen Pusat PPG IPA DEPDIKBUD.
Komalasari, Kokom. 2013.
PembelajaranKontekstual Konsep dan
Aplikasi. Bandung: Refika Aditama.
Marno, dkk. 2010. Strategi dan Metode Pembelajaran. Malang: AR-RUZZ Media
Muhibin, Syah. 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Russefendy, E. T.
(1991). Dasar- dasar Penelitian
Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang Press.
Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran mengembangkan
profesionalisme guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sagala, Saiful. 2010. Konsep dan makna pembelajaran untuk membantu
memecahkan problematika belajar mengajar. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Sepina, Eriani. 2011.Strategi Pembelajaran kooperatif
tipe TAI. (http://www.academia.edu/4059286/Strategi Pembelajaran
Kooperatif), diakses 16 februari 2014.
|
Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset, dan
Praktik. Bandung: Nusa Media.
Suharsimi, Suhardjono, dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukino dan Simangunsong.
2006. Matematika untuk SMP Kelas VII.
Jakarta: Erangga.
Sumaatmadja, Nursyid (2001). Meteodologi
Pengajaran IPS. Bandung: Alumni.
Sundayana, Rostina. 2013. Media
Pembelajaran Matematika. Bandung: Alfabeta.
Susanto, Ahmad. 2012. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah
Dasar. Jakarta: Kencana
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif-Progresif (konsep, landasan, dan implementasinya pada KTSP).Jakarta:
Kencana.
Uno, Hamzah. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta:
Kreasindo Mediacita.
Upi, 2010. Hakekat matematika dan pembelajaran. (http://upi.blogspot/hakikat matematika dan pembelajaran), diakses 27 januari 2014
Wahyuni, Elvi.2010.Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI
pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas X MAN Kota Baru Padang Panjang (http://aifyrasi.blogspot.com/01/01/proposal-kooperatif-tipe-teams-assited.html), diakses 28 januari
2014
Wahyudi, Heru. 2009.Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI. (http://choiroe.blogspot.com/2010/04/model-pembelajaran-tai.html), diakses 29 maret 2014.




