Senin, 15 Februari 2016



Judul: PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIIB SMP BAJIMINASA MAKASSAR SUB POKOK BAHASAN JAJAR GENJANG DAN BELAH KETUPAT

I.                   PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang selalu menarik dan tak habis-habisnya untuk dibicarakan dan dikaji, karena sepanjang peradaban manusia maka sepanjang itu pula pendidikan  selalu diperlukan dan dibutuhkan. Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan masyarakat untuk meningkatkan martabat manusia. Pendidikan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) berdampak pada semua lini kehidupan. Selain Perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karenanya diperlukan kemampuan untuk memperoleh, mengelola dan memanfaatkan IPTEK tersebut secara proporsional. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang sistematis, logis, dan kritis yang dapat dikembangkan melalui peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam pendidikan matematika.
1
 
Matematika adalah salah satu pelajaran dasar yang sangat penting dikuasai oleh siswa mulai dari tingkat dasar sampai tingkat atas. Fungsi dan peranan matematika yang sangat memudahkan kita untuk mengikuti perkembangan Zaman yaitu dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Matematika sebagai sarana untuk berpikir logis, analitis, kreatif, dan sistematis memungkinkan kita dapat dengan mudah membuat inovasi baru dalam kehidupan sehari-hari.
Marti (Sundayana, 2013: 2) mengemukakan bahwa ”Meskipun matematika dianggap memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, namun setiap orang harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah sehari-hari. Pemecahan masalah tersebut meliputi penggunaan informasi, penggunaan pengetahuan tentang menghitung dan yang terpenting adalah kemampuan melihat serta menggunakan hubungan-hubungan yang ada”. Pendapat di atas mempertegas bahwa matematika merupakan disiplin ilmu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan merupakan salah satu bekal yang dapat menghantarkan siswa menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pembelajaran matematika adalah suatu proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika. Suatu proses pembelajaran yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh guru untuk menciptakan suasana belajar siswa yang nyaman, menyenangkan, kreatif dan rileks dengan menggunakan metode atau cara mengajar yang lebih menarik. Hal ini sejalan dengan pendapat Oemar Malik (Wahyuni, 2010) yang menjelaskan bahwa guru dan siswa senantiasa dituntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan, menantang, dan menggairahkan.
Berdasarkan observasi awal dan hasil wawancara yang peneliti lakukan, peneliti melihat bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan belum optimal sehingga pencapaian tujuan pembelajaran matematika yang diharapkan belum tercapai. Pada pembelajaran siswa masih cenderung berpusat pada guru atau peran guru di kelas lebih dominan dari pada siswa. Hal ini ketika pembelajaran berlangsung, materi diberikan oleh guru, definisi dan rumus juga diberikan, penurunan rumus dan penyelesaian soal dilakukan sendiri oleh guru, kegiatan siswa adalah mendengar dan membuat catatan, serta mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru. Ketika guru meminta siswa mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang mereka tidak pahami, siswa tersebut malas bertanya dan hanya diam. Siswa juga merasa tidak percaya diri untuk menjawab ataupun memberikan pertanyaan atau tanggapan secara terbuka, baik kepada guru maupun teman sebayanya. Secara umum terlihat bahwa motivasi belajar siswa kurang sehingga aktifitas siswa dalam pembelajaran belum berkembang secara optimal. Salah satu faktor penyebabnya berasal dari dalam diri siswa, siswa menganggap bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan mengandung bahasa yang rumit. Hal ini tergambar dari sikap siswa, seperti siswa merasa kurang percaya diri ketika menjawab ataupun mengajukan pertanyaan kepada guru.
Selain itu, siswa juga tidak termotivasi bekerjasama dengan teman sebayanya saat menyelesaikan soal yang diberikan guru. Hal ini terlihat dari kurangnya aktifitas siswa berdiskusi dengan temannya untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru. Beberapa siswa tertentu saja yang mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, sedangkan siswa yang lain menunggu pekerjaan temannya selesai agar dapat mencontoh, bahkan ada juga yang tidak mengerjakan tugas sama sekali. Masalah ini jika dibiarkan berlanjut akan berakibat kepada aktifitas dan hasil belajar yang diperoleh siswa.
Selain faktor dari dalam diri siswa, faktor guru dan strategi pembelajaran yang digunakan juga berperan penting atas rendahnya aktifitas dan respon siswa dalam mengikuti pembelajaran. Guru cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan sehingga perbedaan individual ataupun kelompok kurang mendapat perhatian. Pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang berperilaku yang kurang baik menjadi baik. Faktor lain juga telihat dari perlakuan guru yang masih menggunakan strategi pembelajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung. Hal ini menyebabkan kurangnya minat dan respon siswa terhadap pembelajaran karena tidak adanya variasi dari cara mengajar guru.
Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Salah satu indikasi dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal ini dapat dilihat dari persentase jumlah siswa yang memperoleh hasil belajar rendah berdasarkan Ketuntasan Kompetensi Minimal (KKM) yang telah ditetapkan SMP Bajiminasa Makassar  pada mata pelajaran yaitu 76.
Untuk mengatasi masalah di atas perlu diadakan upaya pembaharuan dalam pembelajaran matematika, pembelajaran yang dilaksanakan harus dapat menarik siswa untuk aktif dan terlibat secara mental sehingga minat dan respon siswa terhadap pembelajaran menjadi lebih baik. Melalui upaya tersebut, peneliti berharap pembelajaran matematika dapat membuat perubahan pada diri siswa. Perubahan yang diharapkan adalah siswa lebih aktif dalam pembelajaran, meningkatkan respon dan hasil belajar siswa, dan siswa mampu membagi pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Jika siswa tersebut mampu membagi pengetahuan matematika yang dimilikinya kepada orang lain, maka siswa tersebut dapat menolong dirinya sendiri dan orang lain untuk memecahkan masalah matematika.
Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan penjelasan di atas adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization (TAI). Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individu. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar secara individu. Dalam tipe Teams Assisted Individualization ini siswa ditempatkan pada kelompok–kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen  untuk menyelesaikan tugas individu yang sudah disiapkan guru, kemudian dibawa ke dalam kelompok untuk dibahas bersama teman kelompok. Keheterogenen kelompok dapat mencakup jenis kelamin, ras, agama (kalau mungkin), tingkat kemampuan (rendah, sedang dan tinggi) dan sebagainya (Rusman, 2012: 404).
Pemberian tugas kepada kelompok dapat memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS ini digunakan untuk menggalakkan keterlibatan siswa dalam  pembelajaran. Dalam hal ini LKS dapat difungsikan untuk menemukan konsep, Prinsip, juga untuk aplikasi konsep dan prinsip dalam mengajarkan materi jajar genjang dan belah ketupat. Selanjutnya diikuti pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya. Setelah itu guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan, kemudian pemberian penghargaan bagi kelompok yang aktif dan rata–rata nilai anggotanya yang tinggi.
Peneliti berharap model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization dapat memberikan alternatif solusi atas masalah yang ada di SMP Bajiminasa Makassar dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk itu peneliti menetapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization dalam sebuah penelitian yang berjudul ”Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Assisted Individualization (TAI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIIB SMP Baji Minasa Makassar Sub Pokok Bahasan Jajar Genjang dan Belah Ketupat”.

B.     Rumusan Masalah

Merujuk dari latar belakang, maka rumusan masalahnya adalah “Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe teams assisted individualization (TAI) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIB SMP Bajiminasa Makassar sub pokok bahasan jajar genjang dan belah ketupat?”

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah  untuk meningkatkan hasil belajar jajar genjang dan belah ketupat siswa kelas VIIB SMP Bajiminasa Makassar  melalui  model pembelajaran kooperatif  tipe teams assisted individualization (TAI).

D.    Manfaat Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi guru: sebagi bahan pemikiran untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe teams assisted individualization (TAI).
2.      Bagi siswa: dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa secara klasikal maupun individual dan diharapkan siswa belajar secara aktif, bersikap pasif dan bertanggung jawab serta senang dalam belajar matematika.
3.      Bagi sekolah: dapat dijadikan suatu alternative dalam pembelajaran matematika untuk setiap tingkat kelas dan dapat diterapkan oleh guru-guru pada pelajaran lain serta memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran sehingga dapat menunjang tercapainya kurikulum dan meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang diinginkan.
4.      Bagi penulis: hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian  dan memberikan gambaran kepada penulis sebagai calon guru tentang keadaan sistem pembelajaran di sekolah, sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengembangan ide-ide dalam rangka perbaikan proses pembelajaran.


 
II.   KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.       Kajian Teori

1.         Hakekat Pembelajaran Matematika

a.       Definisi belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik, yang tentunya tidak terlepas dari peran seorang guru sebagai pendidik.
Skinner (Syah, 1995: 90) menjelaskan belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Menurut Morgan, belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman.
Hilgard (Sanjaya, 2006: 112) menyatakan bahwa:
 ”Belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.”

8
 
Menurut Thorndike (Budiningsih, 2004: 21), belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui indera, sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan”.
Adapun menurut R. Gagne (Susanto, 2012: 1), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses diman suatu organism berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Bagi Gagne, belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Sementara itu, Bruner (Sagala, 2010: 35) membedakan proses belajar kedalam tiga fase yaitu: (1) informasi, dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya; (2) transformasi, informasi itu harus di analisis, diubah atau ditansformasi kedalam bentuk yang lebih abstrak, atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan; (3) evaluasi, kemudian kita nilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.
Muhibin Syah (1995) dalam  bukunya yang berjudul “psikologi pendidikan dengan pendekatan baru” menyebutkan bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatife menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Selain itu Mursell (Sagala, 2010: 13) mengemukakan belajar adalah upaya yang dilakukan dengan mengalami sendiri, menjelajahi, menelusuri, dan memperoleh sendiri.
Bertolak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses interaksi antara stimulus dan respon yang menghasilkan perubahan tingkah laku.

b.      Hakekat pembelajaran
Kata pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar. Aktivitas belajar secara metodologis cenderung lebih dominan pada siswa, sementara mengajar secara instruksional dilakukan oleh guru. Proses pembelajaran merupakan  suatu aktivitas yang tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa, tetapi ada interaksi antara guru dan siswa. Degeng (Uno, 2006: 2) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah  upaya membelajarkan siswa.
Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan terjadinya belajar pada diri pebelajar.  AECT (Haling, 2007: 14).
Menurut Corey (Susanto, 2012: 186), pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara dikelolah untuk memungkinkan  ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu. Pembelajaran dalam pandangan Corey sebagai upaya menciptakan kondisi dan lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan siswa merubah tingkah lakunya.
Adapun menurut Dimyati, pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar (Susanto, 2012: 184).
Rusman (2012: 3) juga mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya  pembelajaran merupakan suatu proses terjadinya interaksi antara stimulus dan respon sehingga diperoleh tujuan yang diinginkan.

c.      Hakekat matematika
Sampai saat ini belum ada kepastian mengenai pengertian matematika karena pengetahuan dan pandangan masing-masing dari para ahli yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang bilangan dan ruang, matematika merupakan bahasa simbol, matematika adalah bahasa numerik, matematika adalah metode berpikir logis, matematika adalah ratunya ilmu dan juga menjadi pelayan ilmu yang lain.
Matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian pengalaman itu diproses di dalam  rasio, diolah secara analisis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk     konsep-konsep matematika. Supaya konsep-konsep matematika yang terbentuk itu mudah dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi secara tepat maka digunakan bahasa matematika atau notasi matematika yang bernilai global (universal).
Berikut ini beberapa pandangan para ahli tentang matematika (Upi, 2014):
1.     Russefendi
Matematika terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah matematika disebut ilmu deduktif. Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis. Istilah matematika adalah bahasa yang menggunakan representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide dari pada mengenai bunyi.
2.     James dan James
Matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan lainnya. Matematika terbagi dalam tiga bagian besar yaitu aljabar, analisis dan geometri. Tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa matematika terbagi menjadi empat bagian yaitu aritmatika, aljabar, geometris dan analisis dengan aritmatika mencakup teori bilangan dan statistika.
3.     Reys-dkk
Matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.
4.     Kline
Matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.
Dari pendapat para ahli peneliti dapat menyimpulkan bahwa matematika pada hakekatnya merupakan sistem yang aksiomatik karena dilandasi oleh kesepakatan-kesepakatan, dapat dibuktikan kebenarannya, logis, bahasa yang digunakan umumnya bahasa simbolik.

d.     Hakekat pembelajaran matematika
Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang  dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika (Susanto, 2012: 186).
Pembelajaran secara simple dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakekatnya adalah usaha sadar dari seseorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan                (Trianto, 2019: 17).
Pada hakekatnya pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang mengandung dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah belajar dan mengajar. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara siswa dengan guru, antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungan disaat pembelajaran matematika sedang berlangsung.



2.     Hakikat hasil belajar
Dalam proses mengajar, kegiatan utamanya adalah belajar bagi siswa dan mengajar bagi guru. Siswa senantiasa ingin mencapai hasil yang baik dalam belajar, dan sebaliknya guru senantiasa ingin memperoleh hasil yang baik dari kegiatan yang dilakukannya. Kegiatan proses belajar mengajar harus diawali perencanaan yang baik oleh pengajar agar hasil belajar yang menjadi tujuan utama dari kegiatan proses belajar mengajar dapat dicapai secara maksimal.
Bloom (Daryanto dan Rahardjo, 2012: 27) mengemukakan tiga ranah hasil belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk aspek kognitif Bloom  menyebutkan enam tingkatan yaitu: pengetahuan, pemahaman, pengertian, aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya proses belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik yang menyangkut segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Proses perubahan dapat terjadi dari yang paling sederhana sampai pada yang paling kompeks yang bersifat pemecahan masalah, dan pentingnya peranan kepribadian dalam proses serta hasil belajar.
Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan di atas dipertegas oleh Nawawi (Susanto, 2012: 5) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Sunal (Susanto, 2012: 5), bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program telah memenuhi kebutuhan siswa. Selain itu, dengan dilakukannya evaluasi atau penilaian dapat dijadikan feedback atau tindak lanjut, atau bahkan cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap  dan keterampilan.
Susanto (2012: 6-11) dalam bukunya yang berjudul “Teori belajar dan pembelajaran di sekoah dasar” mendeskripsikan bahwa hasil belajar dapat digunakan sebagai dasar penilaian terhadap peserta didik dalam mencapai pembelajaran dan kinerja yang diharapkan. Hasil belajar merupakan uraian kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam berkomunikasi secara spesifik serta dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang sudah mereka kembangkan selama pembelajaran dan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sudah ditentukan. Selama proses ini, guru dapat menilai apakah peserta didik telah mencapai suatu hasil belajar yang ditunjukkan dengan pencapaian beberapa indicator dari hasil belajar tersebut. Dengan demikian, penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada siswa.
Hasil belajar sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya meliputi pemahaman konsep (aspek kognitif), keterampilan  proses (aspek psikomotorik), dan sikap siswa (aspek afektif). Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.      Pemahaman konsep
Pemahaman menurut Bloom diartikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman menurut Bloom ini adalah seberapa besar siswa mampu menerima, menyerap, dan memahami pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa dapat memahami serta mengerti apa yang ia baca, yang dilihat, yang dialami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau observasi langsung yang ia lakukan.
Menurut Dorothy J. Skeel dalam  Nursid Sumaatmadja (2005: 2-3), konsep merupakan sesuatu yang tergambar dalam pikiran, suatu pemikiran, gagasan, atau suatu pengertian. Orang yang telah memiliki konsep berarti, berarti orang tersebut telah memiliki pemahaman yang jelas tentang suatu konsep atau citra mental tentang sesuatu. Untuk mengukur hasil belajar siswa yang berupa pemahaman konsep, guru dapat melakukan evaluasi produk. Evaluasi produk dapat dilaksanakan dengan mengadakan berbagai macam tes, baik tes secara lisan maupun tertulis.
b.     Keterampilan proses
Dalam melatih keterampilan proses, secara bersamaan dikembangkan pula sikap-sikap yang dikehendaki, seperti kreativitas, kerja sama, bertanggung jawab, dan berdisiplin sesuai dengan penekanan bidang studi yang bersangkutan.
Indrawati (1993: 3) merumuskan bahwa keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif maupun psikomotorik) yang dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, atau untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan (falsifikasi).                  Dengan kata lain, keterampilan ini digunakan sebagai wahana penemuan dan pengembangan konsep, prinsip, dan teori.
c.      Sikap
Dalam hubungannya dengan hasil belajar, sikap lebih diarahkan pada pengertian pemahaman konsep. Dalam pemehaman konsep, domain yang sangat berperan adalah domain kognitif.
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terlibat sejumlah factor yang saling mempengaruhinya. Tinggi rendahnya hasil belajar seseorang dipengaruhi oleh factor-faktor tersebut.
Russefendi (Susanto, 2012: 14) mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar kedalam sepuluh macam, yaitu: kecerdasan, kesiapan anak, bakat anak, kemauan belajar, minat anak, model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru dan kondisi masyarakat.
Dari uraian sebelumnya dapat peneliti simpulkan bahwa pada hakikatnya hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan serangkaian kegiatan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah siswa yang mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

3.     Model pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif  (kooperatif learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.  Pada hakekatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam cooperative learning karena mereka beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning. Abdulhalk (Rusman, 2013: 203) berpendapat bahwa “pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama diantara peserta belajar itu sendiri”. Masih dalam Rusman, Nurulhayati mengemukakan lima unsur dasar model cooperative learning, yaitu: (1) ketergantungan yang positif,                     (2) pertanggungjawaban individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, (5) evaluasi proses kelompok.
Menurut Nur (Daryanto dan Rahardjo, 2012 : 243), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a.      Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b.     Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
c.      Setiap anggota kelompok siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
d.     Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
e.      Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
f.      Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Adapun ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1)      Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2)      Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan gender.
3)      Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa model  pembelajaran kooperatif  merupakan kegiatan belajar siswa yang dilakukan dengan cara berkelompok, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya.

4.      Model pembelajaran kooperatif tipe TAI

a.       Karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe TAI
TAI memiliki dasar pemikiran yaitu untuk mengadaptasi pembelajaran terhadap perbedaan individual berkaitan dengan kemampuan siswa maupun pencapaian prestasi siswa.TAI termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran TAI, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil    (4 sampai 5 siswa) yang heterogen dan selanjutnya diikuti pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya.
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI dikembangkan oleh Robert E. Slavin dalam karyanya Cooperative Learning: Theory, Research and practice. Slavin (2005: 187) memberikan penjelasan bahwa dasar pemikiran dibalik individualisasi pembelajaran adalah bahwa para siswa memasuki kelas dengan pengetahuan, kemampuan, dan motivasi yang sangat beragam. Ketika guru menyampaikan pelajaran kepada bermacam-macam kelompok, besar kemungkinan ada sebagian siswa yang tidak memiliki syarat kemampuan untuk mempelajari pelajaran tersebut dan akan gagal memperoleh manfaat dari metode tersebut. Siswa lain mungkin malah sudah tahu tentang materi itu.
Ciri khas model pembelajaran TAI adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Model pembelajaran TAI memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Teams (kelompok), pembentukan  kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 6 siswa
2.      Placement test (tes penempatan), pemberian pretest(tes awal) kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.
3.      Student Creative, melaksanakan tugas dalam  suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
4.      Team Study (belajar kelompok), tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru , memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkannya.
5.      Team scores and  team  recognition (skor team dan rekognisi team), guru menghitung jumlah skor kelompok. Skor didasarkan pada jumlah rata-rata yang diperoleh tiap anggota kelompok.
6.      Teaching Group (kelompok pengajaran), pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
7.      Facts Test (tes fakta), pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
8.      Whole class unit (unit seluruh kelas), pemberian materi oleh guru kembali di akhir pelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
Pembelajaran Teams Assisted Individualization adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peranan siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
b.      Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TAI
Dengan mengadopsi model pembelajaran TAI dalam pembelajaran Matematika, maka seorang guru mata pelajaran matematika dapat menempuh langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut (Daryanto dan Rahardjo, 2002: 247):
1.      Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
2.      Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
3.      Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan gender.
4.      Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
5.      Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
6.      Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
7.      Guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
Adapun kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1 kelebihan dan kelemahan model pembelajaran TAI
Kelebihan Pembelajaran tipe TAI
Kelemahan Pembelajaran tipe TAI
1.      Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalahnya.
2.      Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya.
3.      Adanya tanggung jawab dalam kelompok dalam menyelesaikan permasalahannya.
4.      Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok.
1.      Tidak ada persaingan antar kelompok.
2.      Siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai.
3.      Bila kerja sama tidak dilakukan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah beberapa murid yang pintar dan yang aktif saja.


B.     Materi Ajar

Materi Segiempat terdiri dari, persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium. Sub pokok bahasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jajargenjang dan belah ketupat. (Sukini dan Wilson, 2006: 294–303)
1.      Jajar genjang.
a.        Pengertian dasar
Perhatikan gambar dibawah ini!








(ii)
 

(i)
 

 

Gambar 2.1 (i) segitiga (ii) membentuk jajar genjang setelah diputar 1800
 
 
Gambar tersebut menunjukkan bangun datar ABCD yang dibentuk dari penggabungan ∆ABC dan segitiga hasil rotasi setengah putaran dengan pusat di titik O (titik tengah CB). Berdasarkan gambar 2.1 diperoleh: AB = CD, serta AC//BD. Bangun ABCD disebut jajar genjang. Jadi dapat disimpulkan  jajar genjang adalah segi empat dengan kekhususan yaitu sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang (Sukino dan Wilson, 2006: 295).
b.      Sifat-sifat jajar genjang
Sifat-sifat yang dimiliki oleh jajar genjang adalah:
1)      Sisi-sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar
Bukti:
Perhatikan gambar di bawah ini!



                              Gambar 2.2 sisi berhadapan sama panjang
 Akan dibuktikan bahwa AB = DC, BC = AD, AB//DC, dan BC//AD.
a)      AB menempati CD maka AB = CD dan AB//CD (AB sejajar CD)
b)      BC menempati DA maka BC = DA dan BC//DA (BC sejajar DA)
Jadi, terbukti bahwa AB sejajar dan sama panjang dengan CD serta BC sejajar dan sama panjang dengan DA.
2)      Sudut-sudut yang berhadapan sama besar.








Text Box: Gambar 2.3 sudut berhadapan sama besar
 



         
Perhatikan gambar 2.4. ∆ABC sebangun dengan ∆CDA karena diputar setengah putaran terhadap titik O (titik tengah AC), maka diperoleh:
a)      AB menempati CD dan BC menempati DA maka diperoleh < ABC = < CDA.
b)      AC berimpit dengan CA, maka BAC = DCA dan DAC = DCB.
Hal ini berarti, sudut-sudut yang berhadapan dalam jajar genjang sama besar.
3)      Mempunyai dua buah diagonal yang berpotongan di satu titik dan saling membagi dua sama panjang
4)      Mempunyai simetri putar tingkat dua, jika diputar terhadap pusatnya sejauh 180o jajar genjang akan menempati bingkainya dan diputar lagi sejauh 360o akan menempati bingkainya kembali.
5)       Tidak memiliki simetri lipat
Dikatakan memiliki simetri lipat apabila suatu bangun dilipat menjadi dua dan tepi-tepi bangun berimpit. Karena tepi-tepi bangun jajar genjang tidak berimpit jika dilipat maka jajar genjang tidak memiliki simetri lipat.
Contoh Soal


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgj7K-r0rpQrqQgDfUmeXgZzSk1dF27xTWtS9kIzJLwa4nof-U-HfBiwbXPeGOc_SLZyibmJVn7sF9aOI4F0dWjpOl8A140AP3LuB0FjTNNo2bQPuI-JFAnDyptmFY9BslaZ-NnhmSBv5Fx/s1600/jajargenjang4.png
 




Pada jajargenjang KLMN di atas, diagonal-diagonalnya berpotongan di titik P. Jika diketahui panjang KL = 10 cm, LM = 8 cm, dan sudut KLM = 112°, tentukan;: Panjang MN, panjang KN, besar sudut KNM, besar sudut LKN.
Penyelesaian:
KL = 10 cm, LM = 8 cm, dan sudut KLM = 112o.
1.      MN = KL = 10 cm
2.      KN = LM = 8 cm
3.      Sudut KNM = sudut KLM (sudut yang berhadapan) = 112o







c). Keliling dan luas jajar genjang
1)      Keliling




Gambar 2.4 menentukan keliling jajar genjang
 
 


Menentukan keliling jajar genjang dapat dilakukan dengan cara menjumlahkan semua panjang sisinya. Sisi-sisi pada jajar genjang yang sejajar adalah sama panjang. Apabila panjang dua sisi yang tidak sejajar masing-masing adalah m dan n, maka Keliling jajar genjang = m + n + m + n = 2m + 2n = 2 (m + n).
Contoh soal:
1. Tentukan keliling jajar genjang ABCD bila AB = 10 cm dan AD = 9 cm!
Penyelesaian:
Keliling = 2(AB + AD) = 2(10 cm + 9 cm) = 2 x 19 cm = 38 cm. Jadi, keliling jajar genjang ABCD = 38 cm
2)     
C
 
D
 
Luas








 





Luas jajar genjang ABCD = Luas Δ ABD + Luas Δ BCD
=  a.t +  a.t
= a.t
Luas daerah jajargenjang   = alas x tinggi
Contoh 1:



Gambar di atas menunjukkan sebuah jajar genjang.
Hitunglah:
a.       Keliling jajar genjang dalam satuan mm,
b.      Luas jajar genjang dalam satuan cm2
Jawab:
a.       Untuk keliling dalam satuan mm, semua sisi harus dalam mm.
Sisi = 8,7 cm = (8,7 x 10) mm = 87 mm
Sisi lain = 63 mm
Keliling = 2 x (87 + 63) = 300 mm
b.      Untuk luas dalam cm2, alas dan tinggi harus dalam cm.
Alas = 8,7 cm
Tinggi = 46 mm = (46 : 10) cm = 4,6 cm
Luas = alas x tinggi
         = 8,7 x 4,6
         = 40,02 cm2
Contoh 2:
ABCD merupakan sketsa sebuah jajar genjang dengan luas 36 cm2, BC = 78 mm, dan CD = 52 mm. Hitunglah l dalam satuan cm!
Jawab:
Text Box: tDiketahui:
Luas = 36 cm2
Alas = CD = 52 mm = 5,2 cm
Tinggi = l cm
Luas = alas x tinggi
Tinggi = luas : alas
l  = luas : alas = 36 : 5,2
l  = 6,92 cm (dibulatkan hingga 2 desimal)







2. Belah ketupat
a.       Pengertian
Perhatikan gambar dibawah ini
Cermin









Gambar 2.6 pencerminan segitiga
 
 


Belah ketupat dibentuk dari gabungan segitiga sama kaki dan bangunannya setelah dicerminkan terhadap alasnya. Belah ketupat juga bisa dikatakan sebagai jajar genjang dengan kekhususan yaitu semua sisi-sisinya sama panjang. Jadi, belah ketupat adalah segi empat yang dibentuk dari segitiga sama kaki dan bayangannya, dengan alas sebagai sumbu cermin (Sukino dan Wilson, 2006: 299).
b.      Sifat-sifat belah ketupat
Berdasarkan definisi dapat diketahui sifat-sifat belah ketupat sebagai berikut:
1)      Semua sisinya sama panjang
Bukti:
Perhatikan gambar
2.7 sisi-sisi belah ketupat sama panjang
 


a)      Belah ketupat ABCD dibentuk dari dua buah segitiga sama kaki yang kongruen, yaitu ∆ABD dan ∆CBD.
b)      Karena ∆ABD dan ∆CBD kongruen, maka AB = CB dan AD = CD
c)      Karena ∆ABD dan ∆CBD sama kaki, maka AB = AD dan BC = CD
Dari kedua hal di atas diperoleh AB = BC = CD = AD. Jadi, belah ketupat ABCD mempunyai panjang sisi yang sama.
2)      Sudut-sudut yang berhadapan sama besar dan dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya
Bukti:
Perhatikan gambar!





2.8 sudut-sudut berhadapan sama besar
 
 


Karena ∆ABD dan ∆CBD kongruen maka A = C. Karena segitiga yang membentuk belah ketupat ABCD merupakan segitiga sama kaki, maka dalam ∆ABD, ABD dan dalam ∆CBD, CBD = CDB. Hal ini berarti,                 ABD +CBD = ADB + CDB atau ABC = ADC. Jadi, dalam belah ketupat ABCD terdapat  A = C dan B = D. Sudut-sudut yang saling berhadapan dalam belah ketupat sama besar. Dari uraian di atas, berarti belah ketupat mempunyai sudut-sudut berhadapan yang sama besar dan dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya.
3)      Kedua diagonalnya saling membagi dua sama panjang dan saling tegak lurus
Gambar 2.9. diagonal membagi dua sama panjang
 
Perhatikan gambar



a)      Misalkan O adalah titik tengah diagonal BD. Segitiga sama kaki ABD dibentuk dari dua segitiga siku-siku yang kongruen, yaitu ∆AOB dan ∆AOD dengan AO sebagai sumbu simetri ∆ABD, BO = DO, < OAB = < OAD, dan < AOB = < AOD = 90o .
b)      CO adalah sumbu simetri dari ∆CBD, < OCB = < OCD, dan < COB = < COD = 90o. Hal ini berarti <AOB + <COB = 2 x 90o = 180o. Jadi, AC merupakan diagonal belah ketupat.
c)      Karena BD diagonal belah ketupat ABCD yang diperoleh dari pemutaran ∆ABD pada garis BD maka:  AO = CO.
4)      Kedua diagonal belah ketupat merupakan sumbu simetrinya
Perhatikan gambar
2.10 diagonal merupakan sumbu simetri
 

Belah ketupat ABCD terbentuk oleh:
a)      ∆ABD dan ∆CBD kongruen dan sama kaki dengan AB = AD, maka BD merupakan sumbu simetri.
b)      ∆ABC dan ∆ADC kongruen dan sama kaki, maka AC merupakan sumbu simetri. Jadi, belah ketupat ABCD mempunyai dua sumbu simetri, yaitu BD dan AC.
c.        Keliling dan luas belah ketupat
1)     
A
 
Keliling
D
 
C
 
B
 



Gambar 2.11 keliling belah ketupat
 
 
Perhatikan belah ketupat ABCD di atas, dengan panjang sisi sama dengan s dan titik potong antar diagonalnya di O.
Keliling ABCD = AB + BC + CD + DA  = s + s + s + s = 4s
Keliling belah ketupat = 4 x panjang sisi
2)      Luas
 Untuk menentukan luas belah ketupat, kita dapat menggunakan rumus jajar genjang yaitu alas x tinggi, karena belah ketupat merupakan bentuk khusus dari jajar genjang. Rumus lain dari belah ketupat dapat pula ditunjukkan sebagai berikut:





Gambar  2.12 cara menentukan luas belah ketupat
 
 
Bila a dan b adalah panjang diagonal-diagonal sebuah belah ketupat maka belah ketupat (i) dapat di ubah menjadi persegi panjang (ii) dengan panjang sisi  a dan b atau persegi panjang (iii) dengan panjang sisi a dan  b.
Luas belah ketupat =  (a x b)
Luas belah ketupat =



Contoh soal:
Panjang diagonal-diagonal sebuah belah ketupat adalah 6 cm dan 8 cm. Hitunglah:
a.       Keliling belah ketupat itu!
b.      Luas belah ketupat
Jawab:
Misalkan belah ketupat ABCD, AC = 6 cm, dan BD = 8 cm.
AO = OC =  AC = 3 cm dan BO = OD =  BD = 4 cm.
AD =
       =
       =
       =  = 5
AD = 5 cm
·         Keliling = 4 x AD = 4 x 5 = 20 cm
·         Luas =  =  = 24 cm2.

C.    Kerangka Pikir

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang tersusun secara hirarkis, berurutan, logis, dan berjenjang dari yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks, dari yang mudah ke tingkat yang lebih sulit. Oleh karena itu, banyak siswa yang mengalami hambatan dan sukar dalam mempelajarinya. Untuk mengatasi masalah di atas perlu diadakan upaya pembaharuan dalam pembelajaran matematika, pembelajaran yang dilaksanakan harus dapat menarik siswa untuk aktif dan terlibat secara mental sehingga minat dan respon siswa terhadap pembelajaran menjadi lebih baik. Pembelajaran matematika hendaknya didesain untuk dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menumbuh kembangkan kemampuan mereka secara maksimal.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa dituntut mampu  bekerjasama dalam kelompok kecil yang heterogen, adanya ketergantungan positif (saling membutuhkan), saling membantu dan saling memberikan motivasi pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan penekanan belajar tidak hanya dalam menyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal. Jadi pembelajaran kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi sesamanya, Model pembelajaran TAI termasuk pembelajaran kooperatif.
Dalam model pembelajaran Team Assisted Individualization masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiapkan secara individu bagi siswa yang memerlukan. Siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya.
Berdasarkan uraian diatas diasumsikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dapat diterapkan dalam subpokok bahasan jajargenjang dan belah ketupat.

D.    Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah “Jika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization pada materi jajar genjang dan belah ketupat maka hasil belajar matematika siswa dapat ditingkatkan”.













III.  METODE PENELITIAN

A.       Jenis Penelitian.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang direncanakan akan dilakukan dalam beberapa siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan langkah yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, 4) refleksi.

B.       Setting Penelitian

1.      Tempat dan waktu penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan di SMP Bajiminasa Makassar yang terletak di Jl. Bajiminasa pada semester genap  tahun akademik 2013/2014
2.      Subjek penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIB SMP Bajiminasa Makassar yang berjumlah 20 orang siswa, terdiri dari 7 siswa laki–laki dan 13 orang siswa perempuan. Subjek penelitian ini sangat heterogen berdasarkan kemampuannya (kemampuan tinggi, sedang dan rendah).

C.       Faktor-faktor yang Diselidiki

Ada beberapa faktor yang diselidiki sebagai berikut:
1.     
38
 
Faktor proses: yaitu dengan mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
2.      Faktor hasil: Dengan melihat hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model Pembelajaran Teams Assisted Individualization

D.       Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini  direncanakan terdiri dari dua siklus, yang dimana tiap siklus terdiri dari empat tahapan tindakan, yaitu (1) perencanaan,       (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi, (Suharsimi, dkk, 2011: 20).
Apabila sudah diketahui letak keberhasilan  dan hambatan dari tindakan yang baru selesai dilaksanakan dalam satu siklus, maka guru pelaksana (bersama peneliti pengamat/observer) menentukan rancangan untuk siklus kedua. Apakah guru tersebut akan mengulangi kesuksesan untuk meyakinkan atau menguatkan hasil, atau akan memperbaiki langkah terhadap hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama? Hasil keputusan tersebut dijadikan rancangan untuk tindakan siklus kedua. Setelah menyusun rancangan untuk siklus kedua, guru dapat melanjutkan ke tahap 2, 3, dan 4, seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan kedua dan guru belum merasa puas, dapat dilanjutkan kesiklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus sebelumnya, (Suharsimi, dkk, 2011: 21).




Secara terperinci, prosedur yang akan dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini dapat digambarkan  sebagai berikut :


 
















1.     Gambaran kegiatan siklus I

Perencanaan siklus I dilaksanakan selama 2 kali pertemuan termasuk 1 kali pertemuan sebagai pelaksanaan tes siklus I. Tahapan pelaksanaan siklus I sebagai berikut:
a.       Perencanaan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini sebagai berikut:
1)      Menelaah kurikulum matematika SMP kelas VII Semester Genap Tahun Ajaran 2013/2014.
2)      Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
3)      Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS)
4)      Mempersiapkan lembar observasi untuk mencatat aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar di kelas pada pelaksanaan tindakan siklus I.
5)      Membuat tes hasil belajar matematika
6)      Menyediakan sarana pendukung yang diperlukan
7)      Mempelajari bahan yang akan diajarkan dari berbagai sumber.
b.      Tindakan
Dalam penelitian ini akan digunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization (TAI). Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1)      Melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar dengan mengacu pada RPP yang telah dibuat.
2)      Peneliti mengatur segala hal yang memudahkan saat pelaksanaan penelitian.
3)      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pentingnya mempelajari materi jajar genjang dan belah ketupat
4)      Guru menyampaikan model pembelajaran yang akan digunakan.
5)      Guru menyiapkan materi jajar genjang dan belah ketupat beserta LKS yang akan diselesaikan oleh kelompok siswa
6)      Guru memberikan pra-test (materi prasyarat, yaitu persegi) kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui tingkat kemampuan siswa.
7)      Guru menyampaikan materi secara singkat
8)      Setelah menyampaikan materi, guru membentuk kelompok kecil yang heterogen tetapi harmonis berdasarkan hasil pra-test, setiap kelompok 4-5 siswa.
9)      Setiap siswa dalam kelompoknya masing-masing mengerjakan tugas dari guru berupa LKS, dan guru memberikan bantuan secara individual bagi yang memerlukannya
10)  Ketua kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
11)  Guru memberikan post-test untuk dikerjakan secara individu
12)  Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis.
c.       Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat untuk melihat aktifitas  siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan observasi aktivitas siswa dilakukan setiap kali pertemuan. Peneliti mengamati perubahan sikap siswa dalam belajar yang meliputi keaktifan siswa dalam memperhatikan materi yang diberikan oleh guru, mengajukan pertanyaan, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dan sebagainya. Hasil observasi  dicatat dalam lembar observasi aktifitas siswa.
d.      Refleksi
Pada tahap refleksi ini hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpul untuk dianalisis. Dari hasil yang didapat, peneliti melihat data observasi sejauh mana faktor-faktor yang diselidiki telah tercapai. Hal-hal yang belum berhasil ditindak lanjuti pada siklus II.
Hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil analisis tersebut dilakukan refleksi. Hasil analisis siklus I dijadikan acuan untuk merencanakan siklus II sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan harapan untuk lebih baik dari siklus sebelumnya.

2.     Gambaran  Siklus II

Pada prinsipnya kegiatan pada siklus II ataupun pada siklus selanjutnya sama dengan kegiatan pada siklus I, dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I berdasarkan hasil refleksi pelaksanaan siklus I.  Pelaksanaan siklus II juga dilakukan dalam 3 kali pertemuan atau 4 jam pelajaran dengan alokasi waktu 2 x 40 menit.
Yang menjadi fokus utama dalam siklus II ini adalah mengupayakan semaksimal mungkin menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization (TAI) dengan baik sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Kemudian siswa yang kurang aktif pada siklus I diupayakan jalan keluarnya supaya aktif. Akan tetapi, apabila setelah siklus II hasil belajar siswa belum memenuhi ketuntasan klasikal maka akan dilanjutkan ke siklus berikutnya.

E.       Data dan Sumber Data

Data dari penelitian ini berupa skor hasil belajar yang akan dilakukan pada setiap akhir siklus dan data observasi. Adapun sumber datanya berasal dari siswa. Dalam hal ini akan dilakukan pemberian tes hasil belajar sebanyak dua kali atau lebih sesuai dengan jumlah siklus yang direncanakan.

F.        Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Untuk pengambilan data dalam penelitian digunakan instrumen yang berupa lembar observasi dan tes. Lembar observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, sedangkan tes digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa terhadap materi pelajaran metematika. Sebelum menggunakan tes yang telah disusun, terlebih dahulu divalidasi oleh beberapa validator.
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Data mengenai peningkatan hasil belajar siswa diambil dari tes setiap siklus.
2.      Data tentang situasi hasil belajar mengajar diambil pada saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
G.      Teknik Analisis Data

Data yang dikumpul akan dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi memberikan gambaran atau mendeskripsikan karakteristik dari objek yang diteliti, yang terdiri dari skor rata-rata, median, modus, standar deviasi, varians, nilai minimum dan nilai maksimum yang diperoleh siswa pada setiap akhir siklus. Untuk analisis kuantitatif digunakan teknik kategorisasi skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Marno, dkk., 2010: 73).
Tabel 3.1.Kategori Standar Penilaian
SKOR
KATEGORI
0 – 54
55 - 64
65 - 79
80 – 89
90 – 100
Sangat rendah
Rendah
 Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi

H.       Indikator Keberhasilan

Yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila skor rata-rata hasil belajar matematika siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe teams assisted individualization (TAI) dari subyek penelitian terjadi peningkatan. Disamping itu, ditandai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) seperti yang diterapkan oleh SMP Bajiminasa Makassar bahwa dikatakan tuntas belajar jika mencapai minimal skor 76 dari skor ideal pada mata pelajaran matematika dan ketuntasan secara klasikal tercapai yaitu skor 85% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥76.

















DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya
Budiningsih, Asri. 2004. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Daryanto dan Rahardjo, Muljo.2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Gava Media.

Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran.Makassar: Badan penerbit UNM.
Hamalik, Oemar. 2009. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Indrawati. 2000. Keterampilan Proses Sains: Tinjauan Kritis dari Teori ke Praktis.Bandung: Dirjen Dikdasmen Pusat PPG IPA DEPDIKBUD.

Komalasari, Kokom. 2013. PembelajaranKontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama.

Marno, dkk. 2010. Strategi dan Metode Pembelajaran. Malang: AR-RUZZ Media
Muhibin, Syah. 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Russefendy, E. T. (1991). Dasar- dasar Penelitian Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang Press.

Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sagala, Saiful. 2010. Konsep dan makna pembelajaran untuk membantu memecahkan problematika belajar mengajar. Bandung:  Alfabeta.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

Sepina, Eriani. 2011.Strategi Pembelajaran kooperatif tipe TAI. (http://www.academia.edu/4059286/Strategi Pembelajaran Kooperatif), diakses 16 februari 2014.

47
 
Siswono, Tatang Y. E. dan Lastiningsih Netti (2007). Matematika SMP dan MTS Kelas VII. Jakarta: Erlangga.
Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Suharsimi, Suhardjono, dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Sukino dan Simangunsong. 2006. Matematika untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erangga.

Sumaatmadja, Nursyid (2001). Meteodologi Pengajaran IPS. Bandung: Alumni.

Sundayana, Rostina. 2013. Media Pembelajaran Matematika. Bandung: Alfabeta.

Susanto, Ahmad. 2012. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif (konsep, landasan, dan implementasinya pada KTSP).Jakarta: Kencana.

Uno, Hamzah. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Kreasindo Mediacita.
Upi, 2010. Hakekat matematika dan pembelajaran. (http://upi.blogspot/hakikat matematika dan pembelajaran), diakses 27 januari 2014

Wahyuni, Elvi.2010.Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas X MAN Kota Baru Padang Panjang (http://aifyrasi.blogspot.com/01/01/proposal-kooperatif-tipe-teams-assited.html), diakses 28 januari 2014

Wahyudi, Heru. 2009.Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI. (http://choiroe.blogspot.com/2010/04/model-pembelajaran-tai.html), diakses 29 maret 2014.